Minggu, 09 Juli 2023

Juara 1 Lomba Esai Nasional Kategori Mahasiswa LINGFEST 2023

LOMBA ESAI NASIONAL  

LINGFEST 2023  

SEENDOC: ALAT PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) MELALUI  SENSOR SUHU ELEKTRONIK TERINTEGRASI IOT SEBAGAI  UPAYA MENURUNKAN TINGKAT PREVALENSI TBC 


Disusun Oleh:  

Institut Pertanian Bogor 

Sarah Firjani Hanisah 

ILMU GIZI 

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 

2023




SeenDoc: Alat Pengawas Menelan Obat (PMO) Melalui Sensor  Suhu Elektronik Terintegrasi IoT Sebagai Upaya Menurunkan  Tingkat Prevalensi TBC 
Sarah Firjani Hanisah 
Latar Belakang 
Tuberkulosis atau sering dikenal dengan TBC merupakan penyakit yang  disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) dan  termasuk jenis penyakit menular (Vidyastari, Riyanti and Cahyo, 2019).  Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global.  Berdasarkan Global Tuberculosis Report yang disampaikan oleh WHO (2018),  Tuberkulosis tetap menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia dan kematian  tuberkulosis secara global diperkirakan 1,3 juta pasien. WHO melaporkan bahwa  estimasi jumlah orang terdiagnosis TBC tahun 2021 secara global sebanyak 10,6  juta kasus atau naik sekitar 600.000 kasus dari tahun 2020 yang diperkirakan 10  juta kasus TBC (WHO, 2022). 

Gambar 1. Jumlah populasi global yang dilaporkan dirawat karena penyakit TBC  pada tahun 2015–2021 (WHO, 2022) 
Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah penderita TBC  terbanyak di dunia setelah India, diikuti oleh China, Filipina, Pakistan, Nigeria,  Bangladesh dan Republik Demokratik Kongo secara berutan. Kasus TBC di  Indonesia diperkirakan sebanyak 969.000 kasus TBC (satu orang setiap 33 detik).  Angka ini naik 17% dari tahun 2020, yaitu sebanyak 824.000 kasus (WHO, 2022).  Selain itu, angka kematian akibat TBC di Indonesia mencapai 150.000 kasus (satu  orang setiap 4 menit), naik 60% dari tahun 2020 yang sebanyak 93.000 kasus  kematian akibat TBC. Dengan tingkat kematian sebesar 55 per 100.000  penduduk. Salah satu faktor penyebab tingginya kasus TB paru di Indonesia adalah waktu pengobatan yang relatif lama (minimal 6 bulan). Hal tersebut menyebabkan penderita sulit sembuh karena mayoritas pasien TB akan berhenti  berobat setelah merasa sehat meskipun proses pengobatan belum selesai. 
Gambar 2. Situasi TBC di Indonesia Gambar 3. Analisis situasi TBC di Indonesia (WHO, 2022) (WHO, 2022) 
Tingkat kematian TB paru akan semakin tinggi apabila penderita TB tidak  mendapatkan atau menghentikan pengobatan TB. Dampak lain akan  menimbulkan kekebalan bakteri tuberkulosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis  atau disebut dengan Multi Drug Resisten (MDR). MDR adalah pasien yang telah  berobat dan putus berobat selama 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Putus  berobat akan menjadi masalah individu dan masyarakat karena dapat  menyebabkan peningkatan penularan, resistensi, hingga mortalitas (Heck, Costa  and Nunes, 2011). Penghentian pengobatan sebelum waktunya di Indonesia  merupakan faktor terbesar dalam kegagalan pengobatan penderita TB paru. 
Saat ini, pemerintah sudah menghadirkan  
solusi untuk mengawasi penderita TB dalam  
mengonsumsi obat. Berdasarkan Peraturan  
Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 67 Tahun 2016 
(Kemenkes RI, 2016), PMO adalah seseorang  
yang dipercaya untuk memantau penderita TB  
paru untuk minum obat secara teratur. Namun,  
peran PMO dinilai kurang efektif untuk  
melakukan aksi pengawasan dan kontrol terhadap  

pasien. Hal ini selaras dengan penelitian yang  dilaksanakan di Kabupaten Lampung Selatan tahun  

Gambar 4. Tugas PMO 

2004 bahwa sebanyak 44,90% PMO mempunyai kinerja baik sedangkan 55,1%  PMO mempunyai kinerja kurang (Lupiyanti and Putra, 2014). 
Sedikit menengok ke belakang, teknologi dianggap sebagai benang merah  untuk menghadapi urgensi kesehatan di era pandemi Covid-19. Dengan  mengadopsi langkah yang sama, penurunan tingkat prevalensi TBC mampu  menemukan titik terang melalui optimalisasi teknologi sebagai sarana pengawasan  minum obat bagi penderita TBC. Seendoc hadir untuk masyarakat sebagai alat  Pengawas Menelan Obat (PMO) melalui sensor suhu elektronik noninvasif  dengan sinar infrared bagi penderita TBC.
Isi 
SeenDoc merupakan sebuah teknologi yang dirancang menyerupai sendok  obat terintegrasi dengan internet of things (IoT) dan dilengkapi dengan beberapa  elemen penunjang. SeenDoc adalah sebuah inovasi dan perwujudan PMO secara digital yang diharapkan dapat meningkatkan nilai efisiensi dan efektivitas dalam  mengawasi terapi TBC bagi pasien terinfeksi. Selain itu, SeenDoc juga  terintegrasi dengan sebuah aplikasi yang juga bernama SeenDoc pada smartphone pasien. Aplikasi ini berfungsi sebagai rekam medis pasien selama melakukan  terapi TBC. Oleh karena itu, setiap pasien TBC diwajibkan mengunduh aplikasi  SeenDoc dan menggunakan alat ini ketika mengonsumsi obat anti Tuberkulosis  (OAT). 
Gambar 5. Desain alat SeenDoc 
Fitur SeenDoc 
Dalam merealisasikan tujuan pemberantasan TBC akibat kurangnya  pengawasan dalam meminum OAT, Seendoc memiliki beberapa fitur unggulan  sebagai berikut. 
1) Sensor suhu elektronik 
Sensor suhu elektronik tersedia untuk memastikan bahwa SeenDoc  telah masuk ke dalam mulut pasien. Dengan menerapkan prinsip  thermogun, sinar infrared pada sensor suhu elektronik akan di-setting  sesuai dengan suhu rata-rata oral manusia pada umumnya. Berdasarkan  hasil penelusuran literatur dan determinan normotermia, suhu rata-rata  pada oral manusia adalah (36,57 ± 0,42) °C (Geneva et al., 2019). Seendoc  akan bekerja pada rentang suhu mendekati suhu rata-rata mulut manusia,  yaitu 34°C-41°C. Apabila suhu berada pada rentang tersebut, SeenDoc  akan merekam dan memasukkan input suhu sebagai data baru pasien.  Berdasarkan gambar 6, sensor suhu diilustrasikan dengan lingkaran putih  dengan bayangan warna merah muda yang terletak di sekitar lingkaran  merah 
2) Sensor OAT
Seendoc memiliki sensor untuk mendeteksi dan memastikan bahwa  obat yang akan diminum adalah obat anti tuberkulosis (OAT). Obat anti  tuberkulosis (OAT) adalah obat-obatan yang diberikan pada pasien  tuberkulosis. Pengobatan OAT terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R),  Pirazinamid (Z), Ethambutol (E) dan Streptomisin (S) (Kemenkes RI, 2016). Oleh karena itu, sensor akan dirancang untuk hanya dapat  mendeteksi OAT saja. 
3) Berbagai jenis tombol 
a) Tombol on/off 
Tombol ini digunakan untuk menghidupkan dan mematikan  SeenDoc 
b) Tombol sensor OAT 
Tombol ini digunakan ketika pasien sudah meletakkan OAT pada  sensor. Ketika tombol ditekan, SeenDoc akan memberikan respons  berupa tulisan pada layar LCD dan suara yang memastikan bahwa  kandungan obat yang diletakkan sudah sesuai dengan memori sensor. 
c) Tombol run 
Tombol digunakan ketika SeenDoc sudah masuk ke mulut pasien.  Ketika tombol run ditekan, tombol akan mengaktivasi sensor suhu  elektronik sehingga alat dapat mendeteksi suhu mulut pasien TBC. d) Tombol hold 
Tombol hold berfungsi untuk merekam data akhir yang tertangkap oleh SeenDoc sehingga data dapat dipastikan sudah tersampaikan ke  aplikasi SeenDoc pada smartphone pasien. 
4) LCD display dan light meter 
Layar LCD akan menunjukkan data yang terdeteksi oleh SeenDoc.  Data tersebut berupa temperatur, status OAT (sudah terdeteksi atau  belum), serta status pengiriman dan penyimpanan data pada aplikasi  SeenDoc di smartphone. Selain layer LCD, light meter juga menunjang  visualisasi data yang terekam dan fitur yang tersedia pada alat. Power light  yang berwarna merah mengindikasikan bahwa alat sudah dalam kondisi  hidup dan siap digunakan serta simbol apabila baterai SeenDoc sudah  habis. Ketika baterai habis, lampu merah akan menyala secara berkedap kedip. Temperature light yang berwarna biru menjadi tanda apabila  SeenDoc sudah mengukur suhu mulut pasien dengan benar. Sementara itu,  error light yang berwarna kuning mengindikasikan apabila terjadi  kesalahan perekaman data karena ketidaksesuaian antara input atau  memori alat dengan output yang terekam. Lampu ini juga dapat  memberikan visualisasi apabila terjadi kerusakan pada fitur dan alat  tersebut.
5) Tempat penyimpanan baterai 
Daya pada SeenDoc berasal dari dua buah baterai alkaline yang  tersimpan pada bagian pegangan belakang alat. Apabila baterai habis,  pasien TBC atau pengguna harus mengganti dengan baterai yang baru  sebagaimana yang dilakukan terhadap mainan, remote barang elektronik,  ataupun jam dinding. 
Mekanisme kerja SeenDoc 
Ketika OAT sudah diletakkan pada permukaan Seendoc, sensor akan  mendeteksi OAT tersebut berdasarkan memori kandungan obat yang telah di input sebelumnya. Apabila kandungan obat tersebut sesuai, sensor akan  mengirimkan respons berupa tulisan detected pada layer LCD. Lalu, data akan secara otomatis akan tersampaikan ke aplikasi. Setelah itu, pasien akan  memasukkan Seendoc ke dalam mulut.  
Ketika sudah mencapai mulut bagian dalam, pasien harus menekan tombol run untuk mengaktivasi sensor suhu elektronik berupa sinar inframerah. Pada  konsisi tersebut, SeenDoc akan mengukur suhu mulut layaknya thermo gun.  Apabila suhu yang terdeteksi berada pada rentang suhu memori yang telah di input, Seendoc akan merekam kondisi ini sebagai data baru yang secara otomatis  tertampilkan di LCD display dan terkoneksikan ke aplikasi. SeenDoc juga akan  memberikan respons berupa lampu berwarna biru pada light meter. Setelah selesai  meletakkan obat pada mulut dan menelannya, pasien harus menekan tombol hold  agar data yang terekam dapat dipastikan sudah tersampaikan ke aplikasi SeenDoc.  Dengan demikian, pasien akan dianggap telah menelan obat dan tercatat secara  otomatis oleh aplikasi. Setelah itu, pasien dianjurkan untuk mengecek aplikasi.  Berikut ringkasan mekanisme kerja SeenDoc. 
Letakkan OAT pada  sensor 
Tekan tombol 
hold 
Cek aplikasi
Tunggu respons dari  SeenDoc 
Tunggu respons dari  SeenDoc 
Masukkan SeenDoc  ke dalam mulut 
Tekan tombol 
run 
Gambar 6. Mekanisme Kerja SeenDoc 
Layaknya program PMO yang telah diterapkan oleh pemerintah, aplikasi  Seendoc juga memiliki fungsi untuk mengingatkan pasien untuk meminum obat  setiap hari melalui smart alarm. Selain itu, aplikasi ini juga dapat mengingatkan  pasien untuk melakukan pemeriksaan dahak, rontgen, dan pengecekan fungsi hati  
dan ginjal secara berkala. Hal tersebut didasarkan pada sebuah informasi bahwa  OAT memiliki berbagai efek samping, salah satunya adalah gangguan hati dan  ginjal. Efek samping OAT tidak hanya menyebabkan morbiditas dan mortalitas,  tetapi juga menyebabkan terganggunya pengobatan karena ketidakpatuhan,  kegagalan, dan kekambuhan yang menyebabkan terus menyebarnya penyakit dan  timbulnya resistensi terhadap obat TB (Wahyudi and Soedarsono, 2015). Oleh  karena itu, rekam medis pasien TBC akan tersimpan secara rapi dalam aplikasi  sehingga hal ini dapat memudahkan dokter untuk mengevaluasi kondisi pasien. 
Analisis dampak SeenDoc 
Secara umum, kehadiran SeenDoc dapat bermanfaat dalam aspek  ekonomi, sosial, pendidikan, dan lingkungan. Dalam aspek ekonomi, dengan  menurunnya tingkat prevalensi TBC, Indonesia dapat mengurangi kerugian  ekonomi akibat TBC. Hal tersebut dapat diketahui dari laporan yang menyatakan  bahwa dampak total kerugian ekonomis akibat penyakit TBC dan TB MDR  adalah sekitar 136,7 milyar per tahun. Orang yang menderita TBC dan TB MDR,  diperkirakan akan kehilangan pendapatan sebesar 38% dan 70%. Dari segi sosial,  SeenDoc dapat menciptakan kepatuhan dan kedisiplinan pasien TBC dalam  mengonsumsi obat, memberi dorongan kepada pasien agar malu berobat secara  teratur, dan mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak dan rontgen pada  waktu yang telah ditentukan.  
Dalam aspek lingkungan, sebelum dilakukan distribusi alat ini, akan  dilakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai urgensi kedisiplinan terapi  TBC. Selain itu, pada aplikasi SeenDoc akan disajikan artikel guna meningkatkan  kualitas hidup, rekomendasi gaya hidup sehat bagi pasien TBC, serta berbagai  upaya yang harus dilakukan dalam rangka memutus tali penyebaran bakteri TBC.  Dari segi lingkungan, SeenDoc dapat menekan prevalensi TBC di Indonesia  sehingga tercipta lingkungan yang lebih sehat dan sejahtera. 
Peran stakeholder 
Untuk merealisasikan gagasan ini, diperlukan keterlibatan dan dukungan  dari berbagai stakeholder. Stakeholder tersebut akan membantu mewujudkan  inovasi ini sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Nama stakeholder dan  tugas-tugasnya dipaparkan lebih lanjut dalam bentuk metode pentaheliks yang  dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 
 Tabel 1. Stakeholder dan Perannya

No 

Stakeholder 

Peran

1. 

Pemerintah 

(Kementerian Kesehatan RI,  Kementerian Kominfo RI)

• Pemberian bimbingan teknis,  supervisi, dan evaluasi  terhadap inovasi SeenDoc





• Memfasilitasi data penunjang • Membantu mendistribusikan  alat kepada masyarakat 

• Memberikan pengarahan  teknis di bidang komunikasi  dan informatika 

2. 

Akademisi  

(Perguruan tinggi)

• Menyebarluaskan informasi tentang gagasan 

• Turut serta berkontribusi  dalam pengembangan  gagasan

3. 

Masyarakat/komunitas  

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Asosiasi  Healthtech Indonesia)

• Membantu SeenDoc dalam  menjangkau lebih banyak  penderita TBC 

• Mempromosikan SeenDoc  secara personal kepada pasien  TBC

4. 

Badan atau pelaku usaha 

• Menjadi investor dalam  pengembangan dan  pemasaran gagasan 

• Memberikan sumbangsih baik  dalam bentuk material  maupun nonmaterial

5. 

Media 

• Membangun branding  SeenDoc agar dikenal lebih  luas oleh pemerintah



Strategi implementasi dan rencana berkelanjutan SeenDoc Diperlukan langkah dengan matang agar gagasan ini dapat direalisasikan  dengan baik dan berkelanjutan. Strategi tersebut terdiri dari langkah implementasi  alat dan aplikasi yang dijelaskan pada diagram alir di bawah ini.  

Perencanaan dan riset  lebih dalam 

Pembuatan SeenDoc  bersama dengan  

Perencanaan kolaborasi dengan stakeholder &  investor 

Uji coba alat dan  

Melakukan kajian dan  perumusan konsep  alat dan aplikasi 

stakeholder  

aplikasi Berhasil

Evaluasi dan  

perbaikan SeenDoc  

Sosialisasi dan  

promosi pada tenaga  kesehatan, pasien  TBC, dan masyarakat 

Gambar 7. Strategi Implementasi SeenDoc 

Target pertama SeenDoc adalah masyarakat dan pasien TBC di  Jabodetabek dan beberapa kota besar. Hal ini disebabkan oleh tingkat penggunaan  gawai dan aksesibilitas informasi pada masyarakat di daerah tersebut lebih  mendominasi. Setelah itu, apabila SeenDoc dapat berjalan dengan efektif dan  efisien, distribusi akan dilanjutkan ke kota-kota lainnya dan daerah terpencil di  Indonesia. Meskipun SeenDoc mengusung konsep digital, peran manusia sebagai  pendamping tetap diperlukan untuk melakukan evaluasi terhadap pasien secara  berkala. 

Simpulan 

Penurunan tingkat mortalitas penderita TBC melalui inovasi Seendoc  memiliki peran besar dalam menjawab permasalahan kesehatan dan memiliki  potensi keberlanjutan yang tinggi. Seendoc dapat menjadi terobosan baru untuk  menginspirasi epidemi atau penyakit menular lainnya seperti hepatitis dalam  melakukan pengawasan secara digital. Inovasi ini diharapkan dapat menurunkan  tingkat mortalitas akibat TBC yang tidak terkendali, membangun kepatuhan dan  kedisiplinan pada masyarakat, mengeliminasi tingkat penyebaran TBC, dan  mengoptimalisasikan program Stop TB yang telah digalakkan oleh pemerintah  Indonesia serta strategi The End Tuberculosis yang diinisiasikan oleh WHO. Selain itu, SeenDoc diharapkan dapat mewujudkan bangkitnya generasi Indonesia emas di tahun 2045 karena sejatinya generasi emas akan lahir di tengah populasi  penduduk yang sehat, sejahtera, dan berdaulat. 

DAFTAR PUSTAKA 

Geneva, I.I. et al. (2019) ‘Normal body temperature: A systematic review’, Open  Forum Infectious Diseases, 6(4), pp. 1–7. Available at:  https://doi.org/10.1093/ofid/ofz032. 

Heck, M.A., Costa, J.S.D. da and Nunes, M.F. (2011) ‘Tuberculosis treatment  drop out prevalence and associated factors in Sapucaia do Sul County (RS),  Brazil, 2000-2008’, Rev Bras Epidemiol, 14(3). Available at:  https://doi.org/10.1590/s1415-790x2011000300012. 

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan RI (2016) Peraturan Menteri Kesehatan  Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan  Tuberkulosis, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67  Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis

Lupiyanti, L.E. and Putra, I.W.G.A.E. (2014) ‘Kinerja pengawas menelan obat  (PMO) penderita TB paru BTA+ di Puskesmas I Denpasar Selatan tahun  2012’, Community Health , 2(1), pp. 141–147. 

Vidyastari, Y.S., Riyanti, E. and Cahyo, K. (2019) ‘Faktor-faktor yang  memengaruhi pencapaian target CDR (Case Detection Rate) oleh  koordinator P2TB dalam penemuan kasus di puskesmas Kota Semarang’,  Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), pp. 2356–3346. Available at:  http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm. 

Wahyudi, A.D. and Soedarsono (2015) ‘Farmakogenomik hepatotoksisitas obat  anti tuberkulosis’, Jurnal Respirasi, 1(3), pp. 103–109. 

[WHO] World Health Organization (2018) Global tuberculosis report 2018.  Geneva. 

[WHO] World Health Organization (2022) Global tuberculosis report 2022.  Geneva. Available at: http://apps.who.int/bookorders.

LAMPIRAN 
Lampiran 1. Desain Fitur SeenDoc
Tombol on/off 

Tombol run 

 Tombol sensor OAT  Tombol hold 



LCD
display Light meter Sensor OAT Sensor suhu 

Lampiran 2. Desain Aplikasi SeenDoc

Profil pasien berikut  



dengan data diri (BB,  

TB, usia, dll 
Kumpulan artikel  
kesehatan 
Health record berisi  

rekam medis pasien 


Data minum obat pasien  

dengan SeenDoc yang  

terkoneksi dengan  

kalender 

Pilihan menu pada  aplikasi 

Data yang terekam  setelah menggunakan  SeenDoc. Pasien  

dianjurkan menuju  fitur ini saat setelah  menggunakan alat 

Smart alarm berfungsi  mengingatkan pasien  setiap hari untuk  

minum obat 

Motivasi untuk  

menyemangatkan  

pasien 


0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2018 LSP FKIP UNS Kampus VI Kebumen.