Lingkar Studi Pendidikan UKM Keilmiahan FKIP UNS

Jumat, 18 Agustus 2023

  • Jurnal Karya 2023 "Resensi Film" #36

     Resensi Film Elemental: Forces of Nature

    Karya: Westu Sedyo Kinasih


    Judul : Elemental: Forces of Nature

    Sutradara : Peter Sohn

    Produser : Denise Raam

    Penulis : John Hoberg, Kat Likkel, Brenda Hsueh

    Penata musik : Thomas Newman

    Perusahaan : Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios

    Negara : Amerika Serikat

    Bahasa : Inggris

    Tanggal rilis : 27 Mei 2023

    Durasi : 1 jam 49 menit

    Genre : Komedi romantis


    Menyatukan hal yang sukar disatukan, itulah tema film yang berjudul Elemental: Forces of Nature ini. Tidak banyak yang tahu bahwa film ini terinspirasi dari pengalaman sutradaranya sendiri yakni Peter Sohn, inspirasi pertama, ia menceritakan bahwa ia tumbuh di kota New York dengan kedua orang tua imigran dari Korea, kedua orang tuanya mengalami kesulitan saat menjalani kehidupan di tempat baru karena mereka tidak memiliki banyak keluarga dan uang di sana, keluarganya pun beradaptasi di New York dengan membuka toko kebutuhan sehari-hari, inspirasi kedua dari film ini yakni Peter Sohn saat masih kecil mengimajinasikan tabel periodik kimia seperti apartemen yang memiliki elemen berbeda tiap kotaknya, selanjutnya ia memperoleh inspirasi ketiga ketika ia yang menikah dengan orang bukan Korea, yang mana terdapat tantangan karena perbedaan budaya antara mereka. Peter Sohn menyenangi ide yang bertolak belakang, seperti air dan api, itulah alasannya menciptakan karakter utama yaitu Ember dan Wade. Peter Sohn juga ingin menceritakan komunitas dimana elemen yang bukan jenis serupa seperti api, air, tanah, dan udara dapat hidup bersama. Film Elemental yang diceritakan ini diatur dalam kota besar dan diperuntukkan untuk siapa saja yang siap untuk melakukan pengorbanan dan mengambil resiko.

    Film ini menceritakan tentang kisah cinta Ember dan Wade dimana keduanya mempunyai latar belakang yang berbeda dimana Ember berasal dari elemen api dan Wade berasal dari Elemen air. Diceritakan awal mula cerita dari film ini adalah saat orang tua Ember yang memutuskan untuk pindah ke kota Elemen karena kota api sedang mengalami masalah, padahal kakek dari Ember tidak menyetujui keputusan mereka, kakek Ember meyakini bahwa kota Elemen tidak diperuntukkan untuk elemen api. Kota Elemen sendiri adalah kota yang perkembanganya pesat dan memiliki tingkat kesibukan tinggi, di kota itu dipenuhi berbagai jenis elemen seperti air, tanah, udara, dan tanah yang saling melakukan hubungan timbal balik.

      Saat pertama kali datang ke kota Elemen, orang tua Ember mengalami berbagai penolakan dari warga kota Elemen khususnya dari elemen air, mereka beranggapan bahwa api dapat menganggu kelangsungan hidup kota Elemen, sejak saat itu orang tua Ember, khususnya ayah Ember membenci elemen air, sering berjalannya waktu, orang tua Ember beradaptasi di sana dengan membangun toko untuk memenuhi kebutuhan elemen api yang juga hidup di kota Elemen, tokonya pun berkembang, sehingga hidup keluarga Ember pun tercukupi. 

    Saat Ember dewasa, ayah Ember memberikan kesempatan pada Ember untuk mengelola tokonya itu, hal itu dilakukan mengingat usia kedua orang tua Ember yang sudah tua, akan tetapi ayah Ember bersikeras untuk memberikan kesempatan pada Ember itu saat ayah Ember yakin bahwa Ember benar benar bisa diberi kepercayaan, oleh karena itu, Ember berusaha keras untuk meyakinkan ayahnya bahwa dia bisa mengelola tokonya itu, namun terkadang, saat mengelola toko, Ember tidak bisa mengelola emosinya, hal itu membuat ayahnya belum dapat memberikan kepercayaan untuknya.

    Suatu hari saat Ember sedang melayani pengunjung toko, Ember tidak bisa menahan emosi pada pelanggannya, emosi yang ia luapkan sangat dahsyat hingga membocorkan pipa-pipa air dalam rumahnya, hingga rumahnya dipenuhi dengan genangan air, kejadian itu merupakan kali pertama Ember dan Wade bertemu, Wade terjebak dalam pipa-pipa itu saat bekerja, untung saja genangan air tersebut tidak mengenai nyala api yang merupakan kenangan terkhir orang tua Ember dari kota asalnya.

    Wade yang merupakan inspektur kota tentu saja segera melaporkan kebocoran air tersebut terhadap atasannya, ia mengatakan kepada Ember apabila masalah pipa-pipa dalam rumah Ember tidak bisa dibenahi, maka rumah Ember akan dihancurkan untuk mengatasi masalah pipa, sehingga otomatis toko ayah Ember dapat ditutup, Ember yang merasa bersalah karena ulahnya takut akan toko ayahnya yang ditutup, Ember segera mengejar Wade, namun sayangnya laporan Wade tentang kebocoran pipa di rumah Ember sudah terlanjur dikirim. Ember yang sedih menceritakan semuanya pada Wade tentang tokonya, hal itu membuat Wade merasa iba pada Ember. Wade yang mengetahui tentang air dan kebocoran pipa segera membantu Ember untuk mencari akar permasalahan yang menyebabkan air bisa bocor ke pemukiman kota Elemen.

    Saat mereka mencoba menyelesaikan akar permasalahan untuk menyanggupi batas waktu yang diberikan oleh atasan Wade, timbul rasa cinta di antara mereka, namun keduanya masih takut karena perbedaan yang mencolok antara mereka. Selang beberapa waktu masalah perpipaan sudah selesai sehingga toko Ember tidak jadi ditutup.

    Ember dan Wade yang menyadari mereka berbeda sempat berkencan, mereka berkencan pada suatu tempat yang mana di tempat itu Ember bisa melihat bunga Vivisteria yang ingin dilihatnya semasa kecil, namun karena tidak diperbolehkan oleh elemen lain, Ember yang merupakan elemen api tidak diperbolehkan masuk karena dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan elemen lain. Pada kencan itu mereka baru menyadari bahwa mereka ternyata bisa bersatu walaupun dari elemen yang berbeda. Singkat cerita mereka berdua sering bersama, dari kebersamaan itu mereka mengenal satu sama lain, Wade jadi mengetahui jika sebenarnya Ember sebenarnya tidak ingin meneruskan usaha ayahnya, Ember ingin meneruskan usaha ayahnya karena ingin balas budi pada keluarganya yang telah membesarkannya dengan susah payah, padahal Ember memiliki passion lain yang ingin dijalankannya sedangkan Ember mengetahui bahwa Wade mudah menangis jika mengingat kejadian yang menyedihkan. Kendati demikian, walaupun hubungan mereka mendapat lampu hijau dari keluarga Wade, namun sebaliknya pada keluarga Ember, keluarga Ember masih membenci elemen air, sehingga hubungan yang awalnya mereka tutup-tutupi, ketika diketahui oleh orang tua Ember, tentu saja kedua orang tua Ember tidak merestui hubungan mereka.

    Sampai di suatu waktu, masalah yang awalnya dianggap selesai, ternyata tidak demikian. Akar masalah kebocoran air yang sudah diselesaikan sebelumnya oleh Ember dan Wade ternyata mengalami kerusakan lagi sehingga air dari pelabuhan membanjiri kota Elemen, hal ini tentunya sangat mengancam keluarga elemen api Ember. Ember pun berusaha menyelamatkan keluarganya, ia juga bersusah payah menyelamatkan kenang kenangan orang tuanya dari kota asalnya yakni nyala api, tak disangka Wade yang sebelumnya mendapat penolakan dari orang tua Ember masih mau menolong keluarga Ember, bahkan Wade bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Ember dan keluarganya.

    Singkat cerita, banjir yang dahsyat mereda, kebocoran air dapat diatasi, sejak saat kejadian itu kedua orang tua Ember yang mengetahui akan ketulusan Wade merestui hubungan mereka, mereka pun menikah dan memutuskan untuk bekerja ke kota lain untuk bekerja sesuai dengan passion mereka masing-masing.

    Secara umum, film ini sangatlah unik karena banyak pembelajaran yang bisa diambil darinya. Film ini bisa menyatukan konsep perbedaan dan pengorbanan, film ini memotivasi kita untuk selalu optimis dalam menyelesaikan segala permasalahan. Dilihat dari animasi kartunnya, Disney dan Pixar memanjakan penontonya dengan karakter dan animasi serta pemilihan warna yang colorful khasnya. Tentunya menggunakan juga konsep cerita out of the box dan belum pernah terpikirkan sebelumnya, musik yang digunakan juga sangat ceria sesuai dengan isi film. Film ini sebenarnya bisa ditonton oleh segala umur, namun karena ada satu adegan saja, yakni adegan ciuman, penulis resensi ini tidak menyarankan untuk film ini dapat ditonton oleh anak di bawah umur. Kesimpulannya, film ini tidak akan rugi bagi anda yang sedang membutuhkan rekomendasi hiburan ceria menonton bioskop karena karakter serta grafik filmnya sangat “mahal” dan ceritanya yang out of the box tetapi isi ceritanya sebenarnya relate pada kehidupan sehari-hari sehingga mengandung banyak makna yang sarat akan pesan moral yang bisa diambil dari film ini.


  • Jurnal Karya 2023 "Puisi" #35

     Halusinasi 

    Karya Tri Khotimah 

    Ketika senja mulai menghilang 

    Dan tersisa langit malam 

    Di hiasi oleh bintang-bintang 

    Dan suara keheningan 

    Mulai bertanya tentang kehidupan yang nyata Mulai bermimpi untuk menjadi abadi 

    Mencari-cari tentang sejatinya diri 

    Tersesat tak tau arah 

    Berharap dimengerti  

    Oleh orang yang disayangi 

    Namun apalah arti impian ini 

    Hanya sekedar halusinasi


  • Jurnal Karya 2023 "Pantun" #34

     Pantun 

    Karya:TitaRoliatunHasanah 

    Bibit padi pagi ditebar 

    Bibit cabai ramai disemai 

    Jadilah manusia yang sabar 

    Jika ingin hidup berdamai 

    Ke pasar beli baju baru 

    Pulangnya membeli kayu 

    Kalau hendak menjadi guru 

    Rajin-rajinlah membaca buku 

    Pagi-pagi main sepeda 

    Jalannya lewat Sudirman 

    Hidup harus serba bisa 

    Agar tidak tertinggal zaman 

    Tamu bermalam kami aturkan 

    Tidur nyenyak dikasur kapuk 

    Jangan terlalu banyak makan 

    Kalau tak mau hidup terpuruk 

    Pergi ke toko membawa pita 

    Membeli tongkat mengikat kain 

    Cukup sekian pantun dari Tita 

    Sampai berjumpa di tugas lain


  • Kamis, 17 Agustus 2023

  • Jurnal Karya 2023 "Cerbung" #33

     Cerbung 

    "Sepucuk Surat Persahabatan" 

    Karya : Tiara Br Sitanggang 

    Hari itu, di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh perbukitan hijau, terdapat  empat sahabat yang tak terpisahkan. Nama mereka adalah Maya, Rama, Dian, dan  Fira. Mereka telah menjalani banyak petualangan bersama sejak kecil, dan  persahabatan mereka telah terjalin kuat selama bertahun-tahun. 

    Suatu hari, ketika mereka duduk bersama di bawah pohon tua di taman kota,  Maya mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya. Wajahnya penuh ekspresi  campur aduk, mencerminkan kegembiraan dan kecemasan. 

    "Sahabat-sahabatku, aku menemukan sesuatu yang ingin kusampaikan kepada  kalian," kata Maya dengan suara bergetar. "Aku menemukan sebuah undangan  untuk menghadiri sebuah kompetisi tari nasional. Aku sangat ingin mengikutinya,  tapi itu berarti harus pergi ke kota besar selama beberapa bulan." 

    Rama, Dian, dan Fira saling memandang dengan kebingungan. Mereka tahu  betapa pentingnya tarian bagi Maya, tetapi juga tidak ingin kehilangan teman  mereka selama beberapa bulan. 

    "Maya, kami mendukungmu sepenuhnya," kata Rama dengan tulus. "Tarian  adalah bakatmu yang luar biasa, dan kami tidak ingin menahanmu. Kami akan  selalu di sini untukmu, meskipun jarak memisahkan kita." 

    Dian dan Fira juga mengungkapkan dukungan mereka. Mereka berjanji untuk  tetap menjaga hubungan persahabatan mereka meskipun jarak memisahkan. 

    Beberapa bulan kemudian, Maya berangkat ke kota besar untuk mengikuti  kompetisi tari. Meskipun jarak memisahkan mereka, keempat sahabat itu tetap  terhubung melalui surat dan panggilan telepon. Mereka berbagi cerita,  kegembiraan, dan tantangan yang dihadapi masing-masing. 

    Di hari penampilan terakhir kompetisi tari, Maya merasa gugup dan rindu akan  kehadiran sahabat-sahabatnya. Namun, saat dirinya naik ke panggung, dia melihat  keempat sahabatnya duduk di barisan depan. Senyum mereka memberikan  kekuatan padanya. 

    Maya menari dengan penuh semangat dan keindahan, menunjukkan bakat yang  luar biasa. Ketika penampilan selesai, panggung dipenuhi dengan tepuk tangan 

    meriah. Maya melihat ke arah sahabat-sahabatnya, dan mereka semua tersenyum  dengan bahagia. 

    Setelah kompetisi selesai, Maya kembali ke kota kecil mereka. Dia bertemu  dengan Rama, Dian, dan Fira di bawah pohon tua di taman, tempat pertemuan  mereka yang selalu dijadikan sebagai tempat untuk bercerita. 

    "Sahabat-sahabatku, kalian selalu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan bagiku,"  kata Maya dengan tulus. "Kalian adalah teman sejati yang selalu ada di  sampingku. Aku bersyukur memiliki kalian dalam hidupku." 

    Keempat sahabat itu pun bertukar pelukan erat, merayakan persahabatan mereka  yang tak tergantikan. Mereka menyadari bahwa meskipun jarak memisahkan,  cinta dan dukungan mereka satu sama lain akan selalu ada.


  • Jurnal Karya 2023 "Puisi" #32

     Jeritan keadilan 

    Karya : Teguh Marwantoro 

    Garis waktu berputar dalam sudut pilu 

    Kisah kelam perjalanan belum ada titik temu 

    Goresan aksara terbujur kaku 

    Mendekap sebuah pengakuan tanpa pintu 

    Ketika keabsahan berakhir nestapa 

    Logika dan akal hilang tanpa rasa 

    Menghentikan perjuangan tuk sebuah fakta 

    Yang telah lama berlumur dosa 

    Atensi hanya sekadar ilusi  

    Mempertahankan sebuah tahta serta kursi  

    Anala berkobar dalam riuhnya rekognisi 

    Kemudian bungkam yang berujung pada polisi 

    Mungkin jeritanmu adalah jawaban 

    Kau tampil apik dalam membasmi kelaliman 

    Melawan para pengecut yang berlindung pada arogansi kekuasaan Mencoret tinta akan nasionalisme perjuangan 

    Mungkin nyawamu hilang dalam raga 

    Namun jiwamu masih tak lekang termakan usia 

    Jeritan keadilan dalam racun udara 

    Menjadi titik puncak rusaknya pilar negara 

    Darah menjalar dalam para satria 

    Menggiring konsepsi yang masih belum terbaca

    7 September 2004 sebagai simbol teriakan suara Mengenang pahlawan retorika penjelajah asa


  • Jurnal Karya 2023 "Pantun" #31

     Pantun

    Karya: Serlia Nurul Azizah 

    Ke kebumen beli lanting

    Membeli lanting angka delapan

    Ikut organisasi itu penting

    Supaya kita tambah pengalaman


    Minum kopi dipagi hari

    Kopi hitam sangatlah nikmat 

    Melihat lingkungan yang asri

    Menjadikan hidup lebih hangat 


    Dua tiga ayam berkokok

    Tanda pagi sudah datang 

    Ayo belajar untuk esok

    Demi masa depan yang cemerlang 


    Beli ikan ke pasar baru

    Beli tahu di pasar jati 

    Jika dia ada yang baru

    Lebih baik berpindah hati


    Sakit hati sakit gigi

    Sakitnya tiada dua

    Punya ilmu yang tinggi

    Untuk bekal dimasa tua 

















  • Jurnal Karya 2023 "Puisi" #30

     Puisi  

    “Bahagia Sekaligus Luka” 

    Karya : Restan Oskarina 

    Tentang dia yang menjadi alasan tertawa

    Tentang dia yang merubah tangis jadi tawa

    Tentang dia yang merubah hitam jadi warna

    Dan lagi-lagi tentang dia 

    Tikamanya begitu dalam nan samar 

    Begitu halus namun menyakitkan 

    Memporandakan isi hati 

    Membunuh mimpi dan harapan yang kembali bersemi 


    Tapi tak apa.. 

    Biarkan masa yang membereskan 

    Biarkan waktu berikan sembuh 

    Dan biarlah serpihan ini menjadi saksi 

    Betapa hancur hati terbohongi 

    Terimakasih tuan, 

    Telah menjadi bahagia sekaligus luka


  • Copyright @ 2018 LSP FKIP UNS Kampus VI Kebumen.